Polling

Bagaimanakah kinerja instansi pemerintah daerah di Kabupaten Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Artikel / Penyandang Tuli dan Tuna Wicara Kebumen harus bisa mandiri Mendapatkan Penghasilan

Penyandang Tuli dan Tuna Wicara Kebumen harus bisa mandiri Mendapatkan Penghasilan

“Semua orang hidup membutuhkan uang atau penghasilan, tidak
terkecuali para Tuli dan Tuna wicara. 
Untuk itu Penyandang Tuli dan Wicara harus bisa mandiri mendapatkan  penghasilan. Ada empat sumber penghasilan yang
bisa didapat yaitu: pemberian (dari orangtua, suami, istri dan saudara),
menjadi pegawai, memproduksi, dan menjual (barang maupun jasa)”, statement
tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana dr. Budi Satrio, MKes., saat menjadi pembicara di kegiatan Outreach
Panti Sosial Bina Rungu Wicara (PSBRW) Melati Jakarta, Selasa (10/04/2018) di
Hotel dan Rumah Makan Candi Sari Karanganyar. 
Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Budi Satrio mengatakan bahwa para
Tuli dan Tuna WIcara, harus focus menentukan jenis usaha atau perdagangan apa
yang akan dipilih. Memiliki mimpi besar menjadi kaya atau sukses adalah awal
langkah dari seorang pengusaha. Selain mimpi, harus diikuti kerja keras, tidak boleh
putus asa dan doa.  Laksnakan shalat 5
waktu, malam dan shalat dhuha.

Acara Outreach Panti Sosial Bina Rungu Wicara (PSBRW) Melati
diadakan atas kerjasama yang intens antara PSBRW Melati Jakarta dengan DInas
Dinas Sosial dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, dengan tujuan
agar para Tuli dan Tuna Wicara terjangkau kegiatan pemberdayaan ekonomi.  Pada kesempatan yang sama Pujiono  selaku Kepala PSBRW Melati Jakarta
mengucapkan terima kasih atas fasilitasi dan kerjasamanya.  DIjelaskan bahwa Pujiono, bahwa PSBRW Melati
Jakarta merupakan UPT Kementrian Sosial RI yang melayani Indonesia bagian
barat, sedangkan untuk Indonesia tengah di Kota Kendari dan Indonesai bagian
Timur di Kupang. 

Penjangkauan dan pelatihan yang diperuntukkan bagi
penyandang Tuli dan Tuna Wicara sejumlah 60 orang, akan diberi materi motivasi,
ketrampilan komunikasi, ketrampilan memproduksi dan menjual serta pemberian
modal.  Sebelum pelatihan, seluruh
peserta ditest audiometri. Hasilnya semua peserta mendyandang gangguan
pendengaran berat.  Selain gangguan
pendengaran berat, kesulitan bertambah dengan adanya 5 peserta yang tidak bisa
berkomunikasi karena tidak pernah sekolah sehingga tidak bisa menulis dan tidak
bisa bahasa isyarat.

Pemilihan Kebumen sebagai lokasi penjangkauan di Indonesia
barat sudah melalui berbagai skrening salah satunya adalah jumlah penyandang
dan keaktifan Dinas Sosial Kebumen dalam memfasilitasi penyandang Tuli dan Tuna
Rungu.  Pelatihan akan dilaksanakan
selama 5 hari dari tanggal 10 s/d 13 April 2018 dengan bobot lebih banyak ke
praktek. 

Dalam kesempatan berdialog antara peserta dengan Kepala
Dinsos dan Kepala PSBRW Melati didapatkan beberapa yang memiliki ketrampilan
dalam bidang tata boga sehingga merencanakan 
akan menggunakan dana bantuan untuk membeli alat membuat kue kering.  Ada satu orang yang memiliki ketrampilan
melukis wajah, sehingga secara spontan Kadinsos pesan satu lukisan untuk hadiah
Kepala PSBRW Melati.

Kepala Dinsos PPKB, juga sempat berharap acara seperti ini
dilaksnakan setiap tahun, jika diperlukan Kebumen siap dengan dana
sharing.  APBD II Kebumen mampu melaksanakan
kegiatan serupa.  Disadari bahwa
penyandang tuli dan tuna rungu rawan dengan masalah ekonomi dan kesejahteraan,
karena akses ke informasi belum terbuka dengan sempurna.













Untuk menyelenggarakan acara serupa Kebumen terkendala
tenaga pelatih, terutama penterjemah. Walaupun sudah ada pelatihan untuk
menambah tenaga penterjemah bahasa isyarat Bisindo tetapi ketrampilannya masih
harus ditingkatkan, karena kekurangan jam terbang. Sementara pada kesempatan
tersebut, PSBRW Melati membawa penterjemah yang setiap hari menjadi penterjemah
berita di stasiun televisi Jakarta.